Didik, Administrator
Tim Redaksi

NEW YORK, Kanal9.id -Tragedi terjadi dalam ajang New York City Marathon setelah seorang pelari perempuan berusia 24 tahun meninggal dunia akibat kolaps saat mengikuti perlombaan. Ia dilaporkan terjatuh ketika hanya berjarak sekitar 3,2 kilometer dari garis finis.

Pelari bernama Rachel Apa asal Lewisberry, Pennsylvania, tersebut sebelumnya diketahui memiliki kondisi fisik yang sangat baik. Ia bahkan telah menjalani latihan selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang lari jarak jauh tersebut.

Dikutip dari BBC, Rachel mengikuti New York City Marathon pada Minggu (1/11) bersama tim Parkinson's Foundation Champions. Keikutsertaannya dalam perlombaan itu sekaligus menjadi bentuk penggalangan dana dan penghormatan kepada sang kakek yang mengidap penyakit Parkinson.

Bagi Rachel, lomba tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti maraton. Meski demikian, ia dikenal sebagai seorang atlet yang aktif berolahraga.

Ayah Rachel, Steve Apa, mengatakan putrinya meninggal akibat rhabdomyolysis atau rabdomiolisis, sebuah kondisi medis yang menyebabkan kerusakan jaringan otot dan dapat berakibat fatal.

Ad Space

Mengenal rhabdomyolysis yang dialami Rachel Apa

Rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan sehingga melepaskan kandungan sel otot ke dalam aliran darah. Salah satu zat yang dilepaskan adalah mioglobin, protein yang dalam jumlah berlebihan dapat membahayakan fungsi ginjal.

Dikutip dari CNN Health, kondisi tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan ginjal, gangguan jantung yang mengancam jiwa, hingga kegagalan organ.

Salah satu faktor yang dapat memicu rhabdomyolysis adalah aktivitas fisik dengan intensitas berlebihan, termasuk olahraga berat yang dilakukan melampaui kemampuan tubuh.

Rachel dilaporkan mengalami kolaps di Central Park, New York, ketika berada di sekitar penanda jarak mil ke-24. Lokasi tersebut berjarak sekitar dua mil dari garis finis.

Ad Space

Seorang warga yang berada di sekitar lokasi sempat memberikan pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru (RJP) atau CPR sebelum tim medis perlombaan tiba.

Penyelenggara New York Road Runners mengonfirmasi kejadian tersebut kepada CBS News. Sementara itu, berdasarkan keterangan Departemen Kepolisian New York (NYPD), seorang pelari perempuan sempat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis.

Sayangnya, nyawa Rachel tidak berhasil diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada malam setelah kejadian. Kantor pemeriksa medis New York masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematiannya.

Sempat mengirim pesan kepada sang ayah sebelum kolaps

Salah satu hal yang menyita perhatian dari peristiwa ini adalah pesan singkat yang sempat dikirim Rachel kepada ayahnya selama mengikuti perlombaan.

Ad Space

Ketika berada di sekitar mil ke-18, Rachel mengirim pesan bertuliskan "Ow" atau "Aduh". Sekitar satu mil berikutnya, ia kembali mengirim pesan dengan tulisan "Ow ow".

Namun, saat mencapai mil ke-23, Rachel justru mengirim pesan lain yang menunjukkan semangatnya untuk menyelesaikan perlombaan.

Pesan tersebut berbunyi "final stretch" atau bagian akhir menuju garis finis.

Tidak lama setelah itu, Rachel mengalami kolaps di Central Park. Ia kemudian mendapatkan pertolongan dari warga dan tim medis sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

New York Road Runners menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Rachel melalui pernyataan resmi yang diperoleh CBS News.

Ad Space

"Kami sangat berduka atas meninggalnya Rachel setelah mengikuti lomba lari hari Minggu. Doa dan simpati tulus kami bersama keluarga, teman, dan seluruh komunitas lari," demikian pernyataan penyelenggara.

Gejala rhabdomyolysis yang perlu diwaspadai pelari

Dokter spesialis ginjal di Mount Sinai, dr Doug Farrell, menjelaskan bahwa rhabdomyolysis termasuk kondisi yang jarang terjadi. Meski demikian, ia mengaku pernah menemukan kasus serupa dalam penyelenggaraan New York City Marathon sebelumnya.

Menurut Farrell, gejala awal rhabdomyolysis dapat berupa kelelahan, tubuh terasa lemas, mual, muntah, hingga nyeri otot.

Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius, terutama setelah seseorang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.

Ad Space

Kerusakan otot yang terjadi dapat melepaskan zat-zat tertentu ke dalam darah dan berpotensi mengganggu kerja organ vital. Karena itu, gejala yang tidak biasa setelah olahraga berat sebaiknya tidak diabaikan.

Rachel mengikuti maraton untuk mengenang sang kakek

Keikutsertaan Rachel dalam New York City Marathon memiliki makna tersendiri bagi dirinya dan keluarga.

Melalui halaman penggalangan dana, Rachel menceritakan sosok sang kakek yang menjadi inspirasi dalam kehidupannya. Ia juga menjelaskan bahwa kecintaannya terhadap olahraga tumbuh berkat pengaruh sang kakek sejak kecil.

"Kakek saya adalah panutan saya saat tumbuh dewasa," tulis Rachel.

Ad Space

Ia mengungkapkan bahwa sang kakek mengajarkannya untuk tetap aktif, berani melampaui batas kemampuan diri, serta tidak takut menghadapi tantangan.

Semangat tersebut kemudian membentuk kecintaannya terhadap olahraga dan aktivitas fisik.

New York City Marathon tahun ini diikuti lebih dari 61.000 peserta. Untuk ketiga kalinya, ajang tersebut kembali mencatatkan rekor sebagai maraton terbesar di dunia.

Kepergian Rachel menjadi duka bagi keluarga dan komunitas pelari, sekaligus mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi tubuh ketika menjalani olahraga dengan intensitas tinggi.

Bagikan: