MAKASSAR, Kanal9.id – Bentrokan antarwarga di Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali memakan korban. Aksi saling serang menggunakan batu dan busur panah antara dua kelompok warga tersebut menyebabkan seorang pria tewas dan Kapolsek Mamajang AKP Tri Husada Wahyu Andromeda mengalami luka akibat terkena anak panah.
Tawuran yang melibatkan warga Lorong 3 dan Lorong 4 Kampung Parang itu berlangsung di Jalan Kakatua II, Kelurahan Parang, Kecamatan Mamajang, Rabu (4/11/2026) malam.
Korban meninggal dunia diketahui berinisial IA alias BD (51). Ia mengembuskan napas terakhir setelah terkena anak panah yang menancap di bagian leher sebelah kiri.
Kanit Resmob Polda Sulsel, Kompol Wawan Suryadinata, mengatakan korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
"Korban dinyatakan meninggal dunia oleh pihak medis RSUD Labuang Baji akibat luka pada bagian leher sebelah kiri," kata Wawan, Kamis (5/11).

Mengetahui bentrokan semakin membahayakan, personel gabungan dari Polsek Mamajang, Resmob Polda Sulsel, Patroli Pallawa, dan Polrestabes Makassar langsung mendatangi lokasi.
Petugas berupaya menghentikan aksi saling serang dengan memblokade sejumlah titik untuk memisahkan kedua kelompok warga. Langkah tersebut dilakukan agar bentrokan tidak semakin meluas dan menimbulkan korban tambahan.
Kapolsek Mamajang Terkena Busur Saat Melerai
Dalam upaya membubarkan massa, Kapolsek Mamajang AKP Tri Husada Wahyu Andromeda ikut turun langsung ke lokasi bersama anggotanya.
Namun, saat berusaha melerai kedua kelompok yang bertikai, Tri justru terkena anak panah pada bagian betis.

Kanit Reskrim Polsek Mamajang, Iptu Uji Mughni, membenarkan kejadian tersebut. Kapolsek kemudian dilarikan ke RS Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan penanganan medis.
"Beliau (AKP Tri) berusaha melerai tawuran, namun justru terkena busur pada bagian betis," ungkap Uji.
Ia menyebutkan Kapolsek telah menjalani operasi. Sementara itu, polisi masih memburu pihak yang bertanggung jawab atas aksi pembusuran tersebut.
"Untuk saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Sedangkan Kapolsek juga sudah menjalani operasi," jelasnya.
Secara keseluruhan, terdapat tiga korban dalam insiden pembusuran tersebut. Selain IA yang meninggal dunia dan Kapolsek yang terluka, seorang warga berinisial FD juga mengalami luka akibat terkena busur pada bagian mata.

Belasan Rumah Rusak, Kios Warga Dijarah
Dampak bentrokan ternyata tidak hanya menimbulkan korban luka dan meninggal dunia. Sejumlah rumah warga yang berada di sekitar lokasi juga menjadi sasaran amukan kelompok yang terlibat dalam pertikaian.
Camat Mamajang, M Rizal, mengungkapkan sedikitnya 15 rumah mengalami kerusakan. Selain itu, satu kios di Jalan Kakatua Lorong 4 dilaporkan dijarah oleh pelaku.
"15 rumah (rusak) dan 1 warung (dijarah) itu berada di Jalan Kakatua Lorong 4. Tapi yang serang bukan semua anak-anak dari sini, tapi kayaknya campuran dari luar juga," kata Rizal.
Menurutnya, para pelaku diduga mendatangi sejumlah rumah untuk mencari orang yang menjadi sasaran mereka. Karena tidak menemukan orang yang dicari, para pelaku kemudian melampiaskan amarah dengan merusak rumah warga.

Rizal menjelaskan, aksi perusakan dilakukan dengan memecahkan kaca jendela hingga mengeluarkan perabotan dari dalam rumah.
"Yang jelas itu rumah ada kaca yang dihancurkan, ada yang dibongkar isi dalamnya dikasih keluar. Termasuk satu warung itu diambil uangnya, gas elpiji dan jualannya," tuturnya.
Dia juga menduga bentrokan tersebut merupakan kelanjutan dari konflik lama yang sebelumnya pernah terjadi di kawasan tersebut. Perselisihan antarwarga disebut sudah berlangsung sebelum insiden terbaru pecah.
Saat penyerangan berlangsung, sebagian warga memilih meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri setelah mendengar kabar adanya serangan. Sebagian lainnya bertahan di dalam rumah karena khawatir menjadi sasaran.
Polisi Pernah Sepakati Penerapan Jam Malam

Di tengah berulangnya bentrokan, pihak kepolisian sebenarnya telah berupaya melakukan langkah pencegahan agar konflik tidak kembali pecah.
Iptu Uji Mughni mengatakan sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk menerapkan pembatasan aktivitas pada malam hari di wilayah yang kerap menjadi lokasi tawuran.
Bahkan, Kapolsek Mamajang disebut telah membawa spanduk berisi imbauan untuk dipasang di sejumlah lorong sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan.
"Tadi malam sudah disepakati kita akan menerapkan jam malam dan Kapolsek sudah membawa banner imbauan untuk dipasang di lorong-lorong tersebut," imbuhnya.
Meski demikian, bentrokan kembali terjadi dan kali ini menelan korban jiwa. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembusuran, perusakan rumah, serta penjarahan kios dalam peristiwa tersebut.