Jakarta – Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, industri asuransi global justru dihadapkan pada peluang bisnis baru yang diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan. Gelombang investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), mulai dari pembangunan pusat data (data center), fasilitas semikonduktor, hingga jaringan listrik dan komputasi awan (cloud infrastructure), menciptakan kebutuhan perlindungan risiko yang semakin kompleks sekaligus memperluas pasar industri asuransi.
Prospek tersebut diungkapkan Swiss Re Institute dalam laporan terbarunya bertajuk World Insurance in 2026: Shock Absorbers in a Fragmenting World. Lembaga riset reasuransi global itu menilai bahwa meskipun pertumbuhan premi asuransi dunia diproyeksikan melambat pada 2026, transformasi ekonomi berbasis AI justru membuka ruang pertumbuhan baru bagi perusahaan asuransi yang mampu mengembangkan produk sesuai karakteristik risiko era digital.
Swiss Re Institute memperkirakan nilai investasi global untuk pembangunan infrastruktur AI akan mencapai sekitar US$750 miliar pada 2026. Investasi tersebut mencakup pembangunan hyperscale data center, pabrik semikonduktor, jaringan transmisi dan distribusi listrik, pusat komputasi awan, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya yang menjadi fondasi pengembangan teknologi AI di berbagai sektor industri.

Menurut Swiss Re, pembangunan aset-aset strategis tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga menghadirkan eksposur risiko dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan industri konvensional. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap perlindungan melalui produk asuransi diperkirakan meningkat secara signifikan.
Dalam laporannya, Swiss Re juga menegaskan bahwa fungsi industri asuransi kini berkembang menjadi lebih strategis. Perusahaan asuransi tidak lagi hanya berperan sebagai pihak yang memberikan ganti rugi ketika terjadi kerugian, melainkan menjadi shock absorber atau penyangga stabilitas ekonomi dengan membantu investor dan pelaku usaha mengelola risiko sehingga proyek-proyek strategis tetap dapat berjalan meskipun menghadapi ketidakpastian global.

Kepala Ekonom Grup Swiss Re, Jérôme Haegeli, mengatakan kondisi geopolitik yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dunia memasuki era baru yang ditandai oleh meningkatnya fragmentasi ekonomi global. Konflik di Timur Tengah, menurutnya, bukan sekadar peristiwa jangka pendek, melainkan bagian dari perubahan struktural yang memengaruhi pola perdagangan, investasi, dan rantai pasok dunia.
Dalam enam tahun terakhir, dunia telah mengalami empat guncangan pasokan (supply shock) besar, yakni pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, perang tarif perdagangan global, dan konflik di Timur Tengah. Rangkaian peristiwa tersebut menyebabkan biaya logistik meningkat, distribusi barang terganggu, serta mendorong perusahaan di berbagai negara membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan terdiversifikasi.
Dampak dari kondisi tersebut tercermin pada proyeksi ekonomi global. Swiss Re memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai sekitar 2,5 persen pada 2026, sementara inflasi diperkirakan masih bertahan di kisaran 4 persen. Perlambatan aktivitas ekonomi dan tingginya biaya produksi diperkirakan turut memengaruhi laju pertumbuhan industri asuransi global.

Swiss Re memproyeksikan pertumbuhan premi asuransi global secara riil hanya mencapai 1,3 persen pada 2026, turun dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,9 persen pada 2025. Perlambatan tersebut terutama terjadi pada segmen general insurance atau asuransi umum yang diperkirakan hanya tumbuh sekitar 0,6 persen, jauh di bawah rata-rata historis sebesar 3,6 persen.
Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya persaingan tarif antarperusahaan asuransi, melambatnya aktivitas ekonomi global, serta mulai memasuki fase soft market, yaitu periode ketika kapasitas industri meningkat sehingga persaingan harga menjadi semakin ketat.

Meskipun demikian, Swiss Re menilai pelemahan kali ini tidak akan sedalam siklus sebelumnya. Hal itu disebabkan inflasi klaim masih relatif tinggi, sementara berbagai risiko geopolitik dan perubahan iklim tetap menciptakan ketidakpastian yang membuat disiplin penetapan tarif (pricing) masih dapat dipertahankan.
Sementara itu, segmen asuransi jiwa diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 2,3 persen. Tingginya tingkat suku bunga memberikan keuntungan bagi perusahaan asuransi melalui peningkatan hasil investasi obligasi, sekaligus memperkuat daya tarik produk tabungan dan anuitas. Selain itu, meningkatnya penetrasi asuransi di negara berkembang diperkirakan tetap menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang.
Salah satu sektor yang diperkirakan mengalami perkembangan paling pesat adalah perlindungan terhadap data center. Swiss Re menilai pusat data modern memiliki karakteristik risiko yang berbeda dibandingkan bangunan komersial biasa. Selain memiliki konsentrasi aset bernilai sangat tinggi, operasionalnya sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil, sistem pendingin, jaringan komunikasi berkapasitas besar, dan keamanan siber.

Gangguan kecil seperti kegagalan sistem pendingin atau pemadaman listrik dapat menyebabkan kerugian finansial dalam jumlah sangat besar. Demikian pula risiko kebakaran, banjir, gempa bumi, hingga serangan siber yang berpotensi menghentikan operasional pusat data dalam waktu singkat.
Swiss Re memperkirakan nilai premi asuransi untuk sektor data center akan meningkat dari sekitar US$10,6 miliar saat ini menjadi lebih dari US$24 miliar pada 2030, menjadikannya salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri asuransi global.

Selain perlindungan aset fisik, perkembangan AI juga diperkirakan mempercepat pertumbuhan pasar cyber insurance. Semakin luas penggunaan teknologi AI berarti semakin besar pula potensi ancaman siber terhadap penyedia layanan cloud, operator pusat data, perusahaan teknologi, hingga sektor manufaktur yang mengandalkan sistem otomatis berbasis AI.
Risiko yang muncul tidak hanya berupa pencurian data atau serangan ransomware, tetapi juga kegagalan algoritma, kesalahan pengambilan keputusan oleh sistem AI, hingga potensi tuntutan hukum akibat kerugian yang ditimbulkan oleh keputusan otomatis. Perkembangan tersebut diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap produk cyber insurance maupun liability insurance.
Swiss Re menilai perubahan struktur risiko global tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri asuransi. Perusahaan yang mampu memperkuat kapasitas underwriting, mengembangkan produk asuransi rekayasa (engineering insurance) dan siber, serta memanfaatkan AI dalam analisis risiko dan penetapan premi diperkirakan akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan.

Dengan demikian, masa depan industri asuransi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membayar klaim setelah risiko terjadi. Lebih dari itu, perusahaan asuransi dituntut menjadi mitra strategis dalam mendukung investasi, mengelola risiko teknologi baru, serta memperkuat ketahanan ekonomi global di tengah transformasi digital dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

