SEMARANG - Pihak SMKN 6 Semarang akhirnya buka suara terkait dugaan keracunan massal yang dialami para siswanya usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (31/7/2026). Berdasarkan pendataan sementara yang dilakukan sekolah, sekitar 690 siswa melaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program tersebut.
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan pihak sekolah masih terus melakukan pendataan melalui formulir daring (Google Form) yang dibagikan kepada seluruh siswa untuk mengetahui jumlah pasti siswa yang terdampak.
"Dari data yang sudah masuk ada sekitar 690 siswa dengan berbagai indikasi keluhan. Ada yang mengalami pusing, mual, diare, hingga muntah," ujar Berti kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

Menurut Berti, setelah menerima laporan banyak siswa mengeluhkan kondisi kesehatannya, pihak sekolah langsung bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang dan Puskesmas Halmahera guna memberikan penanganan medis secepat mungkin.
Petugas kesehatan bersama ambulans diterjunkan ke lingkungan sekolah untuk melakukan pemeriksaan terhadap para siswa yang mengalami gejala. Selain tenaga medis, aparat Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga pihak penyedia makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga hadir di lokasi guna membantu penanganan awal serta melakukan koordinasi terkait insiden tersebut.

Sebagian besar siswa yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan langsung di lingkungan sekolah oleh tim medis dari Puskesmas Halmahera. Sementara itu, beberapa siswa yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dirujuk ke rumah sakit.
"Yang dirujuk ke rumah sakit tidak banyak, sekitar empat orang. Itu pun karena permintaan orang tua yang khawatir dengan kondisi anaknya," jelas Berti.
Hingga kini, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami ratusan siswa tersebut. Untuk mengetahui penyebab pasti, Dinas Kesehatan Kota Semarang telah mengambil sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis yang dikonsumsi para siswa dan membawanya ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Yang jelas setelah banyak anak mengalami pusing, mual, dan diare, kami langsung melakukan penanganan dan menghubungi pihak-pihak terkait," tambahnya.
Secara terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Tengah, Haris Wahyudi, membenarkan adanya dugaan keracunan yang terjadi di SMKN 6 Semarang. Namun, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah siswa yang terdampak.

"Ya, betul. Kami baru saja menerima laporan dari pihak sekolah terkait adanya dugaan keracunan," kata Haris.
Ia menjelaskan, seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan. Sebagian siswa yang kondisinya membaik diperbolehkan pulang ke rumah setelah menjalani pemeriksaan.
"Anak-anak yang kondisinya sudah membaik dan memungkinkan untuk pulang dipersilakan kembali ke rumah," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan guna memastikan apakah keluhan yang dialami para siswa benar-benar disebabkan oleh makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis atau terdapat faktor lain. Hingga hasil pemeriksaan keluar, penyebab pasti insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh instansi terkait.

