Helmi, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA - Selama puluhan tahun, sejarah Perang Dunia II lebih banyak menggambarkan keluarga Kekaisaran Jepang sebagai bagian dari simbol negara yang mendukung ekspansi militer ke berbagai wilayah Asia. Namun, berbagai dokumen yang dipublikasikan setelah perang justru mengungkap fakta berbeda. Di balik kuatnya rezim militer Jepang, ternyata terdapat dua adik Kaisar Hirohito yang diam-diam menentang imperialisme, agresi militer, hingga berbagai kekejaman yang dilakukan tentaranya sendiri.


Kedua tokoh tersebut adalah Pangeran Nobuhito Takamatsu dan Pangeran Takahito Mikasa. Meski berasal dari keluarga kekaisaran, keduanya memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan para petinggi militer Jepang pada masa itu. Akan tetapi, sikap mereka baru diketahui publik puluhan tahun kemudian setelah buku harian, surat pribadi, dan dokumen-dokumen rahasia dibuka.

BACA JUGA : Misteri Harta Karun Yamashita's Gold: Benarkah Disembunyikan Keluarga Kekaisaran Jepang?

Pangeran Nobuhito Takamatsu, Perwira Angkatan Laut yang Mendorong Jepang Mengakhiri Perang

Ad Space


Pangeran Nobuhito Takamatsu lahir di Tokyo pada 3 Januari 1905 sebagai putra ketiga Kaisar Taisho dan Permaisuri Teimei. Ia merupakan adik kandung Kaisar Hirohito yang sejak muda dididik dalam tradisi militer dan kemudian bergabung dengan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.


Setelah lulus dari Akademi Angkatan Laut pada 1925, Nobuhito meniti karier sebagai perwira hingga mencapai pangkat kapten. Ia menikah dengan Putri Kikuko Tokugawa, keturunan keluarga shogun Tokugawa yang pernah memimpin Jepang sebelum Restorasi Meiji.


Ad Space

Pada awal Perang Dunia II, Nobuhito masih menjalankan tugas militernya. Namun seiring berjalannya perang, pandangannya mulai berubah. Kekalahan demi kekalahan yang dialami Jepang membuatnya menyadari bahwa perang hanya akan membawa penderitaan lebih besar bagi rakyat Jepang.


Titik balik terjadi pada pertengahan 1944 setelah Jepang kehilangan Pulau Saipan, salah satu kekalahan terbesar dalam Perang Pasifik. Kekalahan tersebut membuka jalan bagi Amerika Serikat untuk menyerang Kepulauan Jepang secara langsung.


Melihat kondisi tersebut, Nobuhito bersama ibunya, Permaisuri Teimei, serta beberapa anggota keluarga kekaisaran seperti Pangeran Fumimaro Konoe, Naruhiko Higashikuni, dan Yasuhiko Asaka mulai mendesak Perdana Menteri Hideki Tojo agar mengundurkan diri.

Ad Space


Desakan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Hideki Tojo meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri Jepang pada Juli 1944.


Namun perjuangan Nobuhito tidak berhenti di situ.


Ad Space

Dalam buku hariannya yang baru dipublikasikan pada tahun 1995, terungkap bahwa ia beberapa kali menyampaikan pandangan kepada Kaisar Hirohito agar Jepang segera mengakhiri perang dan mencari jalan damai dengan Amerika Serikat.


Ia menilai kekalahan Jepang di Pertempuran Midway pada 1942 merupakan pertanda bahwa perang sudah tidak mungkin dimenangkan.


Catatan harian Nobuhito juga memperlihatkan bahwa ia sangat mengkritik kebijakan ekspansi Jepang ke Tiongkok yang dimulai sejak 1931. Menurutnya, perang tersebut hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil tanpa memberikan keuntungan nyata bagi Jepang.

Ad Space


Setelah perang berakhir, Nobuhito memilih meninggalkan dunia militer dan mengabdikan hidupnya untuk kegiatan sosial, seni, olahraga, serta organisasi kemanusiaan.


Ia dikenal sebagai anggota keluarga kekaisaran yang sederhana dan tidak terlalu menyukai kehidupan protokoler. Nobuhito bahkan sering berjalan-jalan di kawasan Ginza tanpa pengawalan resmi dan menjadi anggota keluarga kekaisaran pertama yang mengunjungi Korea Selatan setelah negara itu merdeka dari Jepang pada tahun 1970.


Ad Space

Pangeran Nobuhito meninggal dunia pada 3 Februari 1987 akibat kanker paru-paru. Baru delapan tahun kemudian, isi buku hariannya dipublikasikan dan mengubah cara banyak sejarawan memandang perannya selama Perang Dunia II.


Pangeran Takahito Mikasa, Saksi Langsung Kekejaman Tentara Jepang di Tiongkok


Berbeda dengan Nobuhito, adik bungsu Kaisar Hirohito, Pangeran Takahito Mikasa, memperoleh pengalaman langsung yang membuat pandangannya berubah terhadap perang.

Ad Space


Lahir pada 2 Desember 1915, Takahito merupakan lulusan Akademi Militer Jepang tahun 1936.


Setahun kemudian ia dikirim ke Tiongkok sebagai perwira intelijen ketika Jepang memperluas invasi ke wilayah tersebut.


Ad Space

Penugasan itu menjadi pengalaman yang sangat membekas.


Dalam berbagai tulisan pribadinya, Takahito mengaku mulai kehilangan keyakinannya terhadap propaganda pemerintah Jepang yang menyebut perang tersebut sebagai "Perang Suci."


Ia menulis bahwa ketika pertama kali menginjakkan kaki di Nanjing, keyakinannya langsung runtuh setelah melihat berbagai tindakan brutal yang dilakukan tentara Jepang terhadap penduduk sipil.

Ad Space


Ia bahkan mengaku menyaksikan bagaimana para komandan memerintahkan prajurit menggunakan tawanan perang yang masih hidup sebagai sasaran latihan bayonet.


Selain itu, Takahito juga mengetahui keberadaan Unit 731, satuan militer rahasia Jepang yang melakukan eksperimen biologis terhadap manusia.


Ad Space

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Takahito semakin menentang militerisme Jepang.


Dalam dokumen yang baru dibuka pada tahun 1994, diketahui bahwa Takahito pernah menulis pidato pada tahun 1944 yang secara terbuka mengkritik tindakan tentara Jepang di Tiongkok serta mengecam pemerintahan kolaborator Wang Jingwei yang dianggap menutupi berbagai kejahatan perang.


Namun pidato tersebut tidak pernah disampaikan kepada publik karena situasi politik saat itu tidak memungkinkan kritik terhadap militer.

Ad Space


Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Takahito kembali menulis refleksi yang menyatakan bahwa banyak pemimpin Jepang akhirnya dipenjara karena kejahatan perang.


Ia bahkan menulis bahwa dirinya sempat berpikir untuk melepaskan status sebagai anggota keluarga kekaisaran dan hidup sebagai rakyat biasa karena merasa malu atas apa yang telah dilakukan negaranya.


Ad Space

Meski niat itu tidak pernah diwujudkan, Takahito memilih meninggalkan dunia militer dan mengabdikan hidupnya pada dunia akademik.


Ia menjadi salah satu pakar sejarah Timur Tengah, bahasa Arab, dan studi Yudaisme di Jepang.


Selama puluhan tahun, Takahito aktif menulis, mengajar, dan menjadi akademisi hingga wafat pada 27 Oktober 2016 dalam usia lebih dari 100 tahun.

Ad Space


Ia menjadi anggota keluarga kekaisaran Jepang tertua pada saat meninggal dunia.


Warisan Sejarah yang Baru Terungkap


Ad Space

Selama bertahun-tahun, pandangan Nobuhito dan Takahito nyaris tidak diketahui masyarakat karena berbagai dokumen pribadi mereka disimpan oleh keluarga kekaisaran.


Baru setelah buku harian, surat, dan arsip-arsip tersebut dipublikasikan pada dekade 1990-an, dunia mengetahui bahwa tidak semua anggota keluarga Kaisar Hirohito mendukung kebijakan ekspansi militer Jepang.


Meski tidak mampu menghentikan jalannya perang, catatan-catatan mereka menunjukkan bahwa di tengah kuatnya dominasi militer Jepang saat itu, tetap ada suara-suara dari dalam lingkaran kekaisaran yang menyerukan perdamaian, mengkritik kekejaman perang, dan mempertanyakan arah kebijakan negara.

Ad Space


Hingga kini, kisah kedua pangeran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kajian sejarah modern Jepang. Mereka dikenang bukan sebagai tokoh yang memimpin perang, melainkan sebagai anggota keluarga kekaisaran yang berani mempertanyakan kebijakan negaranya sendiri dan memilih meninggalkan warisan berupa pemikiran, refleksi, serta pesan tentang pentingnya perdamaian.

Bagikan: