kanal9.id - Kalau dulu Pasar Johar Semarang identik dengan aktivitas jual beli kebutuhan sehari-hari, kini suasananya jauh berbeda. Di sela bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kota Semarang, aroma kopi, soto, hingga ketan susu justru lebih dulu menyambut pengunjung yang datang.
Tak heran jika akhir-akhir ini Pasar Johar semakin ramai dipadati anak muda, keluarga, hingga wisatawan. Mereka datang bukan sekadar berbelanja, melainkan berburu aneka kuliner yang sedang viral maupun menikmati sajian legendaris yang sudah bertahan puluhan tahun.
Di lantai satu, suasana terasa hidup sejak pagi. Sejumlah kedai kopi dipenuhi pengunjung yang menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas. Tak jauh dari sana, roti kekinian yang ramai diperbincangkan di media sosial juga menjadi incaran. Ada pula mi ayam, nasi Padang, hingga ketan susu dengan aneka topping modern yang bisa dinikmati tanpa perlu menguras dompet. Sebagian besar menu dibanderol mulai Rp10 ribuan.
Naik ke lantai dua, nuansanya berubah menjadi kawasan kuliner tradisional yang tak pernah kehilangan penggemar. Soto ayam hangat, sate kambing, pecel, gorengan, hingga segelas es gempol khas Semarang berjajar menggoda selera. Harganya pun masih ramah di kantong. Semangkuk soto bisa dinikmati mulai Rp9 ribu, sementara sate kambing tersedia mulai setengah porsi seharga Rp28 ribu.
Nindya, mahasiswi asal Universitas Diponegoro, mengaku sengaja datang karena penasaran dengan kuliner yang ramai direkomendasikan banyak orang. Menurutnya, daya tarik Pasar Johar bukan hanya makanannya, tetapi juga suasana bangunan tua yang memberi pengalaman berbeda saat menikmati hidangan.

"Bangunannya ikonik dan bersejarah. Rasanya beda saja kalau makan di sini. Yang wajib dicoba menurutku es gempol sama Soto Pak No di lantai dua," katanya.
Hal serupa dirasakan Septi, warga Salatiga, yang hampir setiap akhir pekan menyempatkan diri mampir ke Pasar Johar. Baginya, harga makanan dan minuman di kawasan ini menjadi salah satu alasan untuk kembali datang.
"Harga kopinya cuma sekitar Rp9 ribu, rasanya enak. Tadi juga baru pertama kali coba es gempol, porsinya banyak tapi cuma Rp10 ribuan," ujarnya.
Menurut Septi, kehadiran tenant-tenant baru membuat wajah Pasar Johar semakin hidup. Kehadiran kuliner modern berdampingan dengan pedagang lama dinilai mampu menarik pengunjung baru sekaligus menggerakkan roda perekonomian para pelaku usaha di dalam pasar.
Pendapat senada disampaikan Hilmi. Ia melihat tren nongkrong di pasar tradisional mulai digemari anak muda. Menurutnya, kondisi ini menjadi peluang besar bagi Pasar Johar untuk berkembang sebagai destinasi wisata kuliner yang mampu bersaing dengan pasar-pasar legendaris di kota lain.

"Anak muda sekarang banyak yang sengaja datang buat ngopi atau coba ketan susu setelah lihat di media sosial. Pasar sekarang bukan cuma tempat belanja, tapi juga tempat nongkrong," katanya.
Fenomena itu juga dirasakan para pelaku usaha. Muhammad Ridho Wijaya, pengelola Kofi Johar, mengaku senang melihat semakin banyak pengunjung yang datang sejak kedainya dibuka awal tahun ini. Dengan harga kopi mulai Rp7 ribu hingga Rp15 ribu, ia ingin menghadirkan minuman berkualitas yang tetap terjangkau bagi semua kalangan.
Sementara itu, Ketan Susu menjadi salah satu menu yang paling banyak diburu. Pemiliknya, Nina, memadukan ketan tradisional dengan berbagai topping modern seperti keju, cokelat, oreo hingga mangga yang terinspirasi dari mango sticky rice khas Thailand.
"Harganya mulai Rp10 ribu. Yang paling banyak dicari biasanya varian keju dan mangga," ujarnya.
Bagi Nina, perubahan wajah Pasar Johar menjadi kabar baik. Ia berharap masyarakat tidak lagi memandang pasar tradisional sebagai tempat yang kumuh, melainkan sebagai ruang wisata kuliner, tempat berkumpul, sekaligus destinasi rekreasi yang nyaman di tengah Kota Semarang.

Kini, Pasar Johar bukan sekadar tempat bertransaksi. Perpaduan kuliner tradisional dan kekinian, bangunan bersejarah, serta suasana yang semakin hidup menjadikannya salah satu destinasi yang layak masuk daftar kunjungan saat berada di Kota Semarang.
