Administrator, Administrator
Tim Redaksi

kanal9.id – Kabar baik datang bagi siswa yang sempat menjalani perawatan akibat dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang. Meski biaya rawat inap mereka tidak dapat ditanggung BPJS Kesehatan, seluruh biaya pengobatan dipastikan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Informasi tersebut disampaikan Pemberi Informasi dan Pelayanan Pengaduan (PIPP) RS Permata Medika Semarang, Bayu Widhiasmara. Menurutnya, skema pembiayaan melalui BPJS memang tidak berlaku untuk kasus rawat inap akibat keracunan. Karena itu, pihak rumah sakit berkoordinasi dengan BGN yang kemudian mengambil alih seluruh biaya perawatan pasien.

"Kasus rawat inap karena keracunan memang tidak dijamin BPJS. Setelah dilakukan koordinasi, pembiayaannya dialihkan ke BGN. Pasien yang masih dirawat pun pada Minggu sudah diperbolehkan pulang," ujar Bayu, Minggu (2/8).

Di RS Permata Medika, terdapat dua korban yang mendapatkan penanganan medis. Satu pasien hanya menjalani rawat jalan dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama, sedangkan seorang pasien lainnya harus menjalani rawat inap karena mengalami gejala yang lebih serius.

Pasien berinisial D dirawat setelah mengalami mual dan muntah yang tidak kunjung berhenti. Saat pertama kali tiba di rumah sakit, penyebab keluhannya belum diketahui. Dugaan keracunan makanan baru mengarah pada menu MBG setelah pihak keluarga memberikan informasi mengenai makanan yang dikonsumsi pasien sebelum mengalami gejala.

Ad Space

Setelah mendapatkan penanganan intensif, kondisi pasien terus membaik hingga akhirnya diizinkan pulang pada Minggu (2/8).

Bayu menjelaskan, gejala keracunan tidak langsung muncul setelah makanan dikonsumsi. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis, keluhan baru dirasakan beberapa jam kemudian sehingga sebagian besar korban baru memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan pada hari berikutnya.

Sementara itu, kasus dugaan keracunan massal yang diduga berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis di Semarang masih dalam penyelidikan. Hingga saat ini, jumlah siswa dan guru yang mengalami gejala keracunan dilaporkan mencapai 707 orang.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono telah menjenguk para korban yang menjalani perawatan di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum pada Sabtu (1/8). Pemerintah memastikan seluruh korban memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, termasuk jaminan pembiayaan bagi pasien yang harus menjalani rawat inap.


Ad Space
Bagikan: