POLEWALI MANDAR – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, dukungan terhadap calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengalir dari berbagai daerah. Salah satunya datang dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang secara resmi menyatakan dukungan kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).
Dukungan tersebut dituangkan dalam Surat Pernyataan Dukungan Nomor 31/PC.03/A.I.01.99/2506/08/2026 tertanggal 5 Agustus 2026. Surat itu ditandatangani oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Polewali Mandar, KH Arsyad, S.Ag., M.Pd.I., bersama Sekretaris Muchlis Khaddam, S.Ag., M.Pd.I.
Dalam pernyataannya, KH Arsyad menegaskan bahwa PCNU Polewali Mandar memberikan dukungan penuh kepada Gus Yusuf untuk memimpin PBNU pada periode mendatang.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah melalui berbagai pertimbangan, mulai dari kapasitas keilmuan, pengalaman berorganisasi, kemampuan manajerial, hingga komitmen Gus Yusuf dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
"Kami sepenuhnya memberikan dukungan kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," ujar KH Arsyad dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Tak hanya menyatakan dukungan, PCNU Polewali Mandar juga menegaskan kesiapannya untuk memperjuangkan serta memberikan suara kepada Gus Yusuf dalam forum Muktamar NU yang akan datang.
Sekretaris PCNU Polewali Mandar, Muchlis Khaddam, menilai Gus Yusuf merupakan sosok ulama yang memiliki kemampuan menyatukan berbagai elemen di tubuh Nahdlatul Ulama. Selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Gus Yusuf dinilai berhasil memadukan kekuatan tradisi pesantren dengan tata kelola organisasi yang profesional dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga mampu memperkuat soliditas organisasi serta meningkatkan pelayanan kepada warga nahdliyin.

"KH Muhammad Yusuf Chudlori merupakan sosok yang mampu merawat persatuan, membangun tata kelola organisasi yang amanah dan profesional, serta membawa Nahdlatul Ulama semakin mandiri, maslahat, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman," kata Muchlis.
Dalam surat dukungan tersebut, PCNU Polewali Mandar juga mengajak seluruh peserta Muktamar untuk menjadikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU sebagai pedoman utama dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Menurut mereka, mekanisme organisasi harus dijunjung tinggi agar seluruh kader terbaik NU memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi kepada jam'iyah.

Dukungan ini muncul di tengah harapan besar warga NU agar Muktamar 2026 menjadi momentum memperkuat kembali persatuan organisasi, mengakhiri dinamika internal yang berkepanjangan, serta memperkokoh peran Nahdlatul Ulama dalam menjawab berbagai tantangan sosial, kebangsaan, dan keumatan.
PCNU Polewali Mandar meyakini rekam jejak Gus Yusuf sebagai ulama, pengasuh pesantren, dan tokoh organisasi menjadi modal penting untuk membawa PBNU semakin kuat, profesional, serta berorientasi pada pelayanan kepada jamaah.
Selain itu, Pondok Pesantren API Tegalrejo yang diasuh Gus Yusuf juga memiliki nilai historis bagi Nahdlatul Ulama. Pesantren tersebut pernah menjadi tempat menimba ilmu Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sehingga memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah NU.

Dengan dukungan resmi dari PCNU Polewali Mandar, peta dukungan menuju Muktamar NU 2026 diperkirakan akan terus berkembang seiring semakin dekatnya agenda pemilihan Ketua Umum PBNU. Hingga saat ini, berbagai cabang NU di sejumlah daerah masih terus menyampaikan sikap politik organisasinya menjelang forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut.
