DENPASAR – Meningkatnya harga sewa kamar kos di Bali mulai menjadi persoalan baru bagi para pekerja pendatang. Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata dan properti, mencari hunian dengan harga terjangkau kini dinilai semakin sulit. Tidak sedikit perantau yang terpaksa tinggal jauh dari lokasi kerja, bahkan berbagi kamar demi menekan biaya hidup.
Sejumlah pendatang mengaku kesulitan menemukan kamar kos dengan tarif di bawah Rp1 juta per bulan, terutama di kawasan wisata seperti Kuta, Canggu, Seminyak, hingga Ubud. Harga sewa yang terus meningkat membuat sebagian pekerja harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya hanya untuk biaya tempat tinggal.
Pengamat properti dari Ubud Property, Dani Sulistyo, mengatakan pasar properti di Bali masih menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Kenaikan harga paling signifikan terjadi di wilayah Badung bagian selatan, pesisir Tabanan, serta kawasan Ubud di Kabupaten Gianyar.

Menurutnya, tingginya harga tanah dan besarnya permintaan membuat pemilik kos enggan menawarkan tarif murah. Banyak investor kini lebih memilih membangun hunian dengan segmen menengah hingga premium karena dinilai memberikan keuntungan yang lebih besar.
Fenomena tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah wisatawan asing, pekerja jarak jauh (remote worker), hingga ekspatriat yang menetap dalam waktu cukup lama di Bali. Kelompok ini umumnya memiliki daya beli lebih tinggi sehingga mampu menyewa kamar dengan harga beberapa juta rupiah per bulan.

Seorang pemilik kos di Bali, Nadia, mengatakan sebagian besar penghuni kos miliknya yang disewakan sekitar Rp7 juta per bulan merupakan pekerja asing dan wisatawan yang bekerja secara remote. Selain warga negara asing, permintaan juga datang dari pendatang domestik asal kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.
Di sisi lain, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pekerja lokal maupun perantau dengan pendapatan terbatas. Banyak di antara mereka akhirnya mencari kos di wilayah pinggiran yang berjarak puluhan kilometer dari tempat kerja agar memperoleh harga yang lebih terjangkau.
Salah satu pekerja, Elza, memilih tinggal di Batubulan, Gianyar, meski bekerja di kawasan Kuta, Badung. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer atau sekitar 60 hingga 80 menit menggunakan sepeda motor agar bisa menyewa kamar dengan tarif sekitar Rp750 ribu per bulan.

Keluhan serupa disampaikan sejumlah perantau lainnya. Ada yang mengaku telah berbulan-bulan mencari kamar kos murah namun belum berhasil mendapatkannya. Sebagian bahkan memilih berbagi kamar dengan rekan kerja agar beban biaya sewa dapat dibagi.
Laporan sejumlah pelaku industri properti menyebut kenaikan harga sewa di Bali dipicu kombinasi tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan hunian berbiaya rendah. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan properti lebih banyak mengarah pada vila, apartemen, dan rumah kos kelas menengah ke atas yang menyasar wisatawan maupun ekspatriat.

Kondisi ini memunculkan tantangan baru bagi pekerja sektor pariwisata dan jasa yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali. Di satu sisi, lapangan pekerjaan terus bertambah, namun di sisi lain biaya tempat tinggal ikut melonjak sehingga menekan daya beli dan kualitas hidup para pekerja berpenghasilan rendah.

