SEMARANG - Suasana duka menyelimuti Semarang Zoo setelah salah satu satwa paling ikoniknya, harimau putih bernama Anggun, dilaporkan mati. Kepergian satwa langka yang selama bertahun-tahun menjadi primadona kebun binatang itu tidak hanya meninggalkan kehilangan bagi pengelola, tetapi juga memantik perhatian masyarakat dan Pemerintah Kota Semarang.
Bagi banyak pengunjung, Anggun bukan sekadar koleksi satwa. Harimau putih tersebut menjadi wajah Semarang Zoo dan selalu menjadi tujuan utama setiap kali wisatawan datang ke kawasan Mangkang. Kehadirannya selama ini menjadi daya tarik yang membedakan Semarang Zoo dari destinasi wisata lainnya di Kota Semarang.
Kabar kematian Anggun pun dengan cepat menyebar dan ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai ungkapan duka bermunculan dari masyarakat yang pernah melihat langsung harimau putih tersebut maupun mereka yang mengikuti perkembangan Semarang Zoo.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengaku turut berduka atas kepergian satwa langka itu. Menurut dia, Anggun merupakan salah satu aset konservasi sekaligus kebanggaan Kota Semarang yang memiliki nilai penting, baik dari sisi edukasi maupun pariwisata.
"Sangat sedih ya, nanti akan kita selidiki karena itu salah satu kekayaan di Semarang Zoo," kata Agustina saat ditemui di Balai Kota Semarang, Jumat (24/7).

Ia mengatakan, hampir setiap pengunjung yang datang ke Semarang Zoo selalu menyempatkan diri melihat Anggun. Harimau putih itu telah menjadi magnet yang menarik minat keluarga dan wisatawan untuk berkunjung, sehingga kehilangannya menjadi pukulan tersendiri bagi kebun binatang tersebut.
Di tengah rasa kehilangan itu, muncul dugaan bahwa kematian Anggun berkaitan dengan prosedur anestesi yang diduga memicu abses hingga infeksi. Namun, Agustina menegaskan informasi tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Pemerintah Kota Semarang, kata dia, akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kematian harimau putih tersebut. Proses itu penting agar tidak muncul spekulasi yang berkembang tanpa dasar, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pengelolaan satwa di Semarang Zoo.

"Kita akan selidiki apakah kesalahan anestesi ini benar. Kejadian ini agar bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang bertugas merawat hewannya," ujarnya.
Selain mengungkap penyebab kematian, evaluasi juga akan difokuskan pada standar penanganan medis dan prosedur perawatan satwa, terutama bagi satwa langka yang membutuhkan penanganan khusus. Pemerintah berharap setiap tahapan perawatan telah sesuai dengan kaidah kesejahteraan satwa (animal welfare) dan standar konservasi yang berlaku.

Hingga kini, Pemerintah Kota Semarang masih menunggu laporan lengkap dari pengelola Semarang Zoo mengenai kronologi kejadian serta hasil pemeriksaan medis terhadap Anggun. Laporan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk apabila ditemukan adanya kelalaian dalam proses penanganan.
Kepergian Anggun menjadi kehilangan yang tidak hanya dirasakan oleh Semarang Zoo, tetapi juga masyarakat yang selama ini mengenal harimau putih tersebut sebagai salah satu simbol kebun binatang di Kota Semarang. Pemerintah berharap hasil investigasi nantinya dapat memberikan kepastian mengenai penyebab kematian sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat upaya konservasi dan meningkatkan kualitas perawatan satwa di masa mendatang.

