Helmi, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG – Nama Pasar Maling di Kota Semarang kerap memancing rasa penasaran. Bagi orang yang baru mendengarnya, pasar ini sering disangka sebagai tempat menjual barang hasil curian. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.


Sebutan "Pasar Maling" justru lahir dari cerita yang berkembang di tengah masyarakat selama bertahun-tahun. Salah satunya berkaitan dengan harga barang yang dijual di pasar tersebut yang dikenal jauh lebih murah dibandingkan pasar pada umumnya.


Mayoritas pedagang di Pasar Maling menjajakan pakaian bekas, sepatu, tas, hingga berbagai barang kebutuhan lain dengan harga yang terjangkau. Karena harganya yang murah, muncul anggapan bahwa barang-barang tersebut merupakan hasil curian, meski tidak pernah ada bukti yang mendukung asumsi tersebut.

Ad Space


Selain soal harga, terdapat cerita lain yang juga melekat pada asal-usul nama pasar tersebut. Pasar Maling berada tidak jauh dari kawasan Masjid Agung Semarang, sehingga berkembang ungkapan di masyarakat bahwa sandal yang hilang di masjid konon bisa ditemukan kembali di Pasar Maling.


Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, mengatakan cerita tersebut hanyalah perumpamaan yang berkembang di masyarakat.


Ad Space

"Ada yang bilang karena dekat masjid, sandalnya hilang lalu dijual di Pasar Maling. Jadinya akhirnya disebut Pasar Maling. Itu hanya perumpamaannya," ujarnya.


Meski menyandang nama yang unik, Pasar Maling hingga kini tetap menjadi salah satu pusat perdagangan barang bekas yang cukup dikenal di Semarang. Pengunjung datang untuk mencari pakaian, aksesori, hingga berbagai barang dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan toko maupun pusat perbelanjaan lainnya.


Bagi sebagian warga, nama Pasar Maling bukan lagi memiliki konotasi negatif, melainkan telah menjadi identitas yang melekat sebagai pasar dengan harga ekonomis dan pilihan barang yang beragam. Cerita mengenai asal-usul namanya pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Kota Semarang.

Ad Space
Bagikan: