Didik, Administrator
Tim Redaksi

Kanal9.id — Abu vulkanik yang terbawa angin dapat menempel pada kulit, pakaian, dan wajah, bahkan masuk ke saluran pernapasan tanpa disadari. Karena itu, paparan abu vulkanik sebaiknya tidak diperlakukan seperti debu biasa.

Paparan abu vulkanik dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari iritasi kulit dan mata hingga gangguan pada saluran pernapasan. Kelompok seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki masalah pernapasan dan kardiovaskular perlu lebih waspada.

Jika sudah terlanjur terpapar abu vulkanik, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya.

1. Segera tinggalkan area yang masih terpapar

Prioritas pertama setelah terkena abu vulkanik adalah mengurangi paparan. Jika abu masih berjatuhan, segera masuk ke dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela.

Ad Space

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan selama abu masih beterbangan. Semakin lama berada di lingkungan yang dipenuhi abu, semakin besar kemungkinan partikel tersebut masuk ke saluran pernapasan.

Jika harus keluar rumah atau membersihkan abu yang sudah masuk ke dalam rumah, gunakan masker untuk membantu mengurangi partikel yang terhirup.

2. Waspadai batuk hingga sesak napas

Dampak abu vulkanik tidak selalu langsung terasa. Paparan dalam waktu singkat dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan mata.

Menurut US Geological Survey (USGS), sejumlah keluhan yang mungkin muncul antara lain batuk, hidung dan tenggorokan teriritasi, hingga memburuknya kondisi orang yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan seperti asma.

Ad Space

Paparan abu dan gas vulkanik juga dapat menyebabkan gangguan saluran napas. Anak-anak serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung termasuk kelompok yang lebih rentan.

Jika muncul batuk berkepanjangan, mengi, sesak, atau kesulitan bernapas yang tidak membaik setelah menjauh dari paparan, segera cari pertolongan medis.

3. Bersihkan kulit tanpa menggosoknya terlalu keras

Setelah berada di tempat aman, abu yang menempel pada kulit sebaiknya segera dibersihkan. Mandi dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan untuk menghilangkan sisa abu.

Namun, hindari menggosok kulit secara berlebihan. Abu vulkanik memiliki sifat abrasif dan dapat menyebabkan iritasi maupun kemerahan pada kulit.

Ad Space

Hal yang sama berlaku untuk wajah. Jika abu menempel pada wajah yang menggunakan makeup, jangan langsung mengusapnya berulang kali menggunakan tisu atau kapas. Bilas terlebih dahulu untuk mengurangi partikel abu, kemudian bersihkan wajah secara perlahan.

4. Abu masuk mata, jangan dikucek

Mata termasuk bagian tubuh yang cukup sensitif terhadap paparan abu vulkanik. Partikel abu dapat menimbulkan rasa mengganjal, mata berair, kemerahan, gatal, hingga sensasi terbakar.

Pada kondisi tertentu, abu bahkan dapat menyebabkan goresan pada permukaan kornea. Risiko ini juga perlu diperhatikan oleh pengguna lensa kontak karena partikel abu dapat terjebak di balik lensa.

Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Segera bilas mata dengan air bersih. Penggunaan lensa kontak sebaiknya dihentikan selama masih terdapat paparan abu.

Ad Space

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata yang terkena abu dan segera membersihkannya menggunakan air.

Apabila setelah dibilas mata tetap terasa nyeri, sangat merah, sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan terganggu, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.

5. Hindari menyapu abu secara sembarangan

Abu yang sudah masuk ke rumah juga perlu dibersihkan dengan hati-hati. Menyapu abu secara kering justru dapat membuat partikel kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

Saat membersihkan rumah, gunakan masker dan bila tersedia, pelindung mata. Pakaian tertutup serta sarung tangan juga dapat digunakan untuk mengurangi kontak langsung dengan abu.

Ad Space

Pilih metode pembersihan yang tidak membuat abu beterbangan sebanyak mungkin.

Sebagian besar keluhan akibat paparan abu vulkanik memang bersifat ringan dan dapat membaik setelah seseorang menjauh dari sumber paparan. Namun, gejala yang menetap atau semakin parah tetap tidak boleh diabaikan.

Segera cari pertolongan medis apabila setelah terpapar abu vulkanik muncul sesak atau kesulitan bernapas

Bagikan: