Helmi, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA – Kalimat "Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi." menjadi salah satu penggalan kalimat yang paling membekas di ingatan generasi Indonesia yang mengenyam pendidikan dasar pada era 1980-an hingga 1990-an. Bagi jutaan anak saat itu, kalimat sederhana tersebut menjadi pintu pertama mengenal huruf, mengeja kata, hingga akhirnya mampu membaca.


Di balik kalimat legendaris tersebut terdapat sosok Siti Rahmani Rauf, seorang pendidik kelahiran 5 Juni 1919 yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan. Melalui buku peraga "Ini Budi", ia berhasil menghadirkan metode belajar membaca yang sederhana, mudah dipahami, dan menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar.


Siti Rahmani menggunakan Metode Struktur Analitik Sintesis (SAS) Bahasa Indonesia, yakni pendekatan pembelajaran yang memadukan pengenalan kata, kalimat, dan gambar sebagai alat peraga. Metode ini dinilai efektif karena membantu siswa memahami bacaan secara bertahap, dimulai dari kalimat utuh, kemudian diuraikan menjadi kata, suku kata, hingga huruf sebelum akhirnya disusun kembali.

Ad Space


Pendekatan tersebut membuat proses belajar membaca menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Kalimat-kalimat sederhana yang disertai ilustrasi tokoh Budi dan keluarganya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah diingat oleh para siswa.


Buku peraga "Ini Budi" kemudian digunakan hampir di seluruh sekolah dasar di berbagai daerah di Indonesia. Popularitasnya membuat kalimat "Ini Budi, ini ibu Budi, ini bapak Budi" melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia dan menjadi simbol awal proses belajar membaca bagi satu generasi.


Ad Space

Di balik keberhasilan itu, terdapat kisah pengabdian yang jarang diketahui publik. Siti Rahmani telah mengabdikan dirinya sebagai guru sejak 1937. Setelah puluhan tahun mengajar, ia menjabat sebagai Kepala SD Negeri Tanah Abang 5, Jakarta Pusat, hingga memasuki masa pensiun pada 1976.


Beberapa tahun setelah pensiun, tepatnya pada awal dekade 1980-an, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menawarkan kepadanya untuk menyusun buku peraga pembelajaran membaca bagi siswa sekolah dasar. Tawaran tersebut diterima dengan penuh semangat.


Yang membuat kisahnya semakin menginspirasi, Siti Rahmani disebut menerima tugas tersebut tanpa meminta bayaran maupun royalti. Baginya, penyusunan buku tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada dunia pendidikan dan kontribusi untuk membantu anak-anak Indonesia memperoleh kemampuan membaca sejak dini.

Ad Space


Dedikasi tersebut membuat karyanya tidak hanya menjadi buku pelajaran, tetapi juga bagian dari sejarah pendidikan nasional. Melalui metode SAS dan tokoh Budi, jutaan anak Indonesia berhasil mengenal dunia literasi dengan cara yang sederhana namun efektif.


Meski perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai metode pembelajaran modern, buku "Ini Budi" tetap dikenang sebagai salah satu media belajar membaca paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan Indonesia. Kalimat pembukanya masih sering diingat dan diucapkan hingga kini, bahkan oleh mereka yang telah lama meninggalkan bangku sekolah.


Ad Space

Siti Rahmani Rauf meninggal dunia pada 10 Mei 2016 dalam usia 96 tahun setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang telah dideritanya selama sekitar tiga dekade. Namun, warisan yang ditinggalkannya tetap hidup melalui jutaan orang Indonesia yang pernah belajar membaca menggunakan buku karyanya.


Kisah Siti Rahmani Rauf menjadi pengingat bahwa jasa seorang guru tidak selalu diukur dari penghargaan atau materi yang diterimanya. Melalui dedikasi, ketulusan, dan kecintaannya pada dunia pendidikan, ia telah meninggalkan jejak yang terus dikenang lintas generasi. Kalimat sederhana "Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi." bukan hanya pelajaran membaca pertama bagi banyak anak Indonesia, tetapi juga simbol pengabdian seorang pendidik yang memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan literasi bangsa.

Bagikan: