JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena iklim El Nino terus menguat dan berpotensi memperparah kondisi musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan, mulai dari kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga angin kencang.
Informasi tersebut disampaikan BMKG melalui prakiraan potensi hujan sepekan ke depan yang dirilis pada Senin (27/7/2026). Dalam laporan itu disebutkan bahwa musim kemarau terus meluas, sementara kondisi cuaca kering semakin mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air.
Berdasarkan hasil pemantauan Dasarian II Juli 2026, curah hujan dengan kategori rendah tercatat mencakup sekitar 92,93 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, wilayah dengan curah hujan kategori menengah hanya mencapai 6,63 persen, sedangkan kategori tinggi tinggal 0,45 persen.

Kondisi tersebut turut tercermin dari sifat hujan yang didominasi kategori bawah normal. BMKG mencatat sekitar 89,97 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah rata-rata klimatologis, yang menunjukkan berkurangnya intensitas hujan selama musim kemarau tahun ini.
Hingga Dasarian II Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berlanjutnya musim kemarau dan menguatnya pengaruh fenomena El Nino dalam beberapa waktu ke depan.

BMKG mengingatkan bahwa menguatnya El Nino berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang di sejumlah daerah. Dampaknya tidak hanya memicu berkurangnya ketersediaan air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen, terganggunya sektor pertanian, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.
Selain itu, kondisi udara yang lebih kering juga dapat meningkatkan potensi angin kencang di beberapa daerah. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar atau membuang puntung rokok sembarangan di kawasan hutan maupun lahan kering.
Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat juga diminta mulai mengantisipasi kemungkinan dampak kekeringan dengan mengelola penggunaan air secara bijak, menjaga sumber-sumber air, serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau berlangsung.

BMKG memastikan akan terus memantau perkembangan dinamika atmosfer dan memberikan pembaruan informasi cuaca serta iklim secara berkala. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi BMKG agar dapat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem dan dampak lanjutan dari menguatnya fenomena El Nino.

