KUPANG — Duka mendalam menyelimuti wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 94 pengungsi yang terdampak musibah gempa bumi dilaporkan meninggal dunia saat bertahan di lokasi penampungan sementara.
Kondisi sanitasi yang memburuk serta minimnya fasilitas medis di tenda-tenda pengungsian ditenggarai menjadi faktor utama penurunan kondisi kesehatan para warga.
Sebagian besar korban jiwa yang menghembuskan napas terakhir di penampungan merupakan kelompok rentan, seperti lansia, balita, dan ibu hamil.

Terpaan cuaca ekstrem serta terbatasnya ketersediaan air bersih makin memperburuk daya tahan tubuh para pengungsi dari hari ke hari.
Tim medis yang diterjunkan ke titik-titik tenda darurat terus berjuang memberikan penanganan kesehatan serta obat-obatan yang kian menipis.

Pemerintah daerah setempat mengimbau bantuan logistik dan suplemen medis tambahan segera disalurkan ke area-area terisolasi.
Proses evakuasi warga yang sakit menuju rumah sakit rujukan terus dilakukan meski terkendala akses jalan yang rusak akibat guncangan gempa.
Organisasi Kemanusiaan dan sukarelawan bergotong-royong membenahi fasilitas penampungan agar lebih layak huni serta terlindung dari cuaca buruk.

Kementerian Sosial memastikan akan mengucurkan bantuan santunan duka cita bagi keluarga pengungsi yang ditinggalkan.
Tragedi ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian tetap bagi korban gempa NTT.
