Helmi, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG - Gangguan kelenjar tiroid menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami wanita. Sayangnya, banyak penderita tidak menyadari gejala awal karena kerap dianggap sebagai kelelahan biasa, stres, atau perubahan hormon. Padahal, jika tidak ditangani sejak dini, gangguan tiroid dapat memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh.


Kelenjar tiroid merupakan organ kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Meski ukurannya kecil, organ ini menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) yang berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, suhu tubuh, detak jantung, energi, berat badan, hingga fungsi otak dan sistem reproduksi.


Secara umum, gangguan tiroid terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu hipertiroid dan hipotiroid. Keduanya memiliki penyebab dan gejala yang berbeda, sehingga penting untuk mengenali ciri-cirinya.

Ad Space


Pada hipertiroid, kelenjar tiroid memproduksi hormon secara berlebihan. Kondisi ini membuat metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat. Penderita biasanya mengalami jantung berdebar, tangan gemetar, mudah berkeringat, berat badan turun meski nafsu makan meningkat, sulit tidur, mudah cemas, serta tidak tahan terhadap cuaca panas.


Selain itu, sebagian penderita juga mengalami pembesaran kelenjar tiroid atau gondok. Pada penyakit Graves, salah satu penyebab hipertiroid yang paling sering terjadi, mata dapat tampak menonjol disertai iritasi dan gangguan penglihatan.


Ad Space

Sebaliknya, hipotiroid terjadi ketika produksi hormon tiroid terlalu sedikit sehingga metabolisme tubuh melambat. Akibatnya, penderita sering merasa cepat lelah, mengantuk, berat badan meningkat tanpa sebab yang jelas, kulit menjadi kering, rambut rontok, wajah tampak sembap, sulit berkonsentrasi, mudah merasa kedinginan, serta mengalami sembelit.


Pada wanita, kedua gangguan tersebut juga dapat memengaruhi siklus menstruasi dan kesuburan. Hipertiroid maupun hipotiroid yang tidak ditangani berisiko menyebabkan gangguan ovulasi, sulit hamil, hingga meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan.


Dokter menjelaskan bahwa wanita memiliki risiko mengalami gangguan tiroid sekitar lima hingga delapan kali lebih tinggi dibandingkan pria. Risiko tersebut meningkat pada wanita berusia di atas 35 tahun, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tiroid, menderita penyakit autoimun, atau sedang menjalani masa kehamilan dan setelah melahirkan.

Ad Space


Pemeriksaan fungsi tiroid dapat dilakukan melalui tes darah untuk mengukur kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone), Free T4, dan bila diperlukan Free T3. Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah seseorang mengalami hipertiroid atau hipotiroid serta menentukan terapi yang sesuai.


Pengobatan hipertiroid dapat berupa obat antitiroid, terapi yodium radioaktif, atau operasi pada kondisi tertentu. Sementara itu, hipotiroid umumnya ditangani dengan pemberian hormon tiroid sintetis yang harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter.


Ad Space

Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang berlangsung dalam waktu lama. Jantung sering berdebar tanpa sebab, penurunan atau kenaikan berat badan yang drastis, mudah lelah berkepanjangan, tremor, hingga perubahan emosi sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.


Menjaga pola makan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan yodium sesuai anjuran, rutin berolahraga, mengelola stres, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menjaga fungsi tiroid tetap optimal.


Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan gangguan tiroid. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin besar peluang penderita memperoleh pengobatan yang efektif dan terhindar dari berbagai komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Ad Space
Bagikan: